Rabu, 29 Juni 2016

Backpacking in Flores Island


Ola Ngari


Flores island, is one of the biggest island in East Nusa Tenggara province. many tourism potential began to squirm impact on the number of tourists visiting the island this beautiful growing,
although sometimes still constrained time and considerable expense, it did not deter the tourists to come to the island of Flores, is currently on the island of Flores already provided Shelter for Backpacker (low budget travelers). precisely in Nuapaji, Jopu Village, District Wolowaru, Ende - Flores Island.

for the Backpacker will visit while exploring the natural beauty of the island of Flores, it is advisable to stop by this place. Halfway house is located right at the foot of Mount Flores, Ende road axis - Maumere. To get to Shelter "Ngari Ola", the Backpacker can travel from Ende or Maumere. and be sure to get off at the intersection of 3 Eating "JAWA TIMUR" in the District Wolowaru. This place also serves as a place to rest and eat while because it is located exactly in the path between the trans regency on Flores. of Wolowaru distance to Shelter Ola Ngari stayed 5 kilometers. can be reached by 2-wheel vehicles or wheel 4. Here also provided a motorcycle taxi service, at a cost of Rp 10,000. just say just to be escorted to the house of Mama Francisca, in Nuapaji, Village Jopu.

if the Backpacker want to Kelimutu, from here the distance during the 2 hour trip. and in the village is also provided vehicles for rent with prices Family. Shelter Ola Ngari no charge, for backpackers are welcome to nginap and eat at home is FREE. while also seeing the moms who are making Woven Tie Typical Ende Lio, and saw firsthand the life of the community, Indigenous and Culture in Village this remote.

* * * * * * *

Contact Person:
Mama Francisca
Phone: 081236087972

Emanuel Ndelu Wele
Phone: 082350444132
WA: 08125323546
e-mail: emanuelnw.enw@gmail.com
blog: emanuelndeluwele.blogspot.com
instagram: emanuelndeluwele

a good time to visit the Shelter Ola Ngari in Nuapaji Village is at the end of March, to coincide with Indigenous Events " KAPOKA ", and at the end of October, to coincide with the event Customary "KAPENA "

* * * * * * *

Senin, 27 Juni 2016

Rumah Singgah Backpacker di Flores

Ola Ngari

Pulau Flores, merupakan salah satu Pulau terbesar di Propinsi Nusa Tenggara Timur. banyaknya potensi wisata yang mulai menggeliat berdampak pada jumlah para wisatawan yang berkunjung ke Pulau yang indah ini kian bertambah.
walau terkadang masih terkendala waktu dan biaya yang cukup besar, hal itu tidak menyurutkan niat para wisatawan untuk datang ke Pulau Flores.

saat ini di Pulau Flores sudah tersedia Rumah Singgah bagi para Backpacker (wisatawan low budget). tepatnya berada di Kampung Nuapaji, Desa Jopu, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende - Flores Tengah.

bagi para Backpacker yang akan berkunjung sembari menjelajahi keindahan alam di Pulau Flores, disarankan untuk mampir ditempat ini. Rumah singgah ini berada persis di kaki Gunung Kelimutu, jalan poros Ende - Maumere.

untuk menuju ke Rumah Singgah "Ola Ngari", para Backpacker bisa menempuh perjalanan dari Ende atau dari Maumere. dan pastikan untuk turun di simpang 3 Rumah Makan "JAWA TIMUR" di Kecamatan Wolowaru. tempat ini juga berfungsi sebagai tempat istirahat dan makan sementara karena berada persis di jalur trans antar Kabupaten di Pulau Flores.
dari Wolowaru jarak tempuh ke Rumah Singgah Ola Ngari tinggal 5 kilometer. bisa ditempuh dengan kendaraan roda 2 atau roda 4. disini juga tersedia jasa ojek, dengan biaya Rp 10.000. tinggal bilang saja untuk diantar ke Rumah Mama Fransiska, di Kampung Nuapaji, Desa Jopu.

jika para Backpacker hendak ke Danau Kelimutu, dari sini jarak tempuh selama 2 jam perjalanan. dan di Kampung ini juga disediakan kendaraan yang bisa disewa dengan harga Keluarga.

Rumah Singgah Ola Ngari tidak memungut biaya, bagi para backpacker dipersilahkan untuk nginap dan makan di Rumah ini GRATIS. sembari melihat Ibu-Ibu yang sedang membuat Kain Tenun Ikat Khas Ende Lio, dan melihat secara langsung kehidupan masyarakat, Adat dan Budaya di Kampung terpencil ini.

* * * * * * *

Contact Person :

Mama Fransiska
Phone : 081236087972

Emanuel Ndelu Wele
Phone : 082350444132
WA : 08125323546
e-mail : emanuelnw.enw@gmail.com
blog : emanuelndeluwele.blogspot.com
instagram : @emanuelnw

waktu yang baik untuk berkunjung ke Rumah Singgah Ola Ngari di Kampung Nuapaji adalah di akhir bulan Maret, bertepatan dengan Acara Adat "KAPOKA", dan diakhir bulan Oktober, bertepatan dengan Acara Adat "KAPENA".

* * * * * * *

Selasa, 10 Mei 2016

Pulau Labengki - Eksotisme dari Sulawesi Tenggara


“semoga lautnya tenang yah Pak”. Kataku mengawali percakapan dengan Bapak pemilik perahu kayu yang kami tumpangi.
Yaah, kali ini saya bersama 5 sahabat dari Jakarta dan Samarinda berencana akan mendatangi Pulau Labengki. Yang merupakan salah satu pulau-pulau cantik di Sulawesi Tenggara. Keindahan Pulau Labengki yang pernah saya lihat di Televisi dan Majalah On-Line membuatku ingin segera menyambanginya.

Perahu kayu yang kami tumpangi mengawali perjalanan dari Jembatan Kuning, terletak diluar Kota Kendari. Tempat ini kami sepakati untuk meeting point bersama sahabat lain dan dengan pemilik perahu kayu tersebut. Setelah semuanya berkumpul, kami segera berangkat menuju Pulau Labengki. Karena diantara kami ber-6 belum pernah ke Pulau Labengki, jadi kami tidak tau berapa lama perjalanannya hehehe. Tapi untunglah kami dikasih tau oleh pemilik perahu katanya perjalanan menuju Pulau Labengki ditempuh selama 4-5 jam.

 
Pulau Bokori, Sulawesi Tenggara

Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan yang memanjakan mata. Laut lepas membiru menghampar sejauh mata memandang. Daratan Pulau Sulawesi disisi kiri mengapit mengiringi perjalanan. Sementara disisi kanan nun jauh disana terpampang gugusan pulau-pulau kecil menghiasi Perairan Banda Basin Utara”. Seperti Pulau Bokori, Pulau Hari, Pulau Tiga, Pulau Saponda Laut Besar dan Kecil dan beberapa pulau lainnya.
Jika pemilik perahu kayu berbaik hati, mintalah pada beliau untuk mampir sejenak di Pulau Bokori, pulau ini yang dilewati ketika mau ke Pulau Labengki. Pulau Bokori tak berpenghuni. Tapi disini berdiri beberapa Resort yang tergolong mewah menurut saya. Dan di Pulau ini juga sering dijadikan sebagai tempat atau dilakukan berbagai macam acara dari instansi atau perusahaan-perusahaan disekitar Sulawesi Tenggara.

 
Perkampungan Suku Bajau di Pulau Labengki Kecil

Setelah hampir 4 jam perjalanan, daratan Pulau Labengki sudah mulai nampak jelas. Dengan Mercusuarnya yang menjulang disisi kanan. Dari sini kecepatan perahu kayu sengaja dikurangi. Gugusan pulau karang kecil tak berpenghuni mengapit dikiri-kanan, indaaah sangat. Seperti di Negri dongeng rasanya. Setelah melewati gugusan pulau karang, didepan kami nampak rumah-rumah penduduk yang berjejer dipesisir pantai. Inilah perkampungan Suku Bajau di Pulau Labengki. 


Pelabuhan di Pulau Labengki Kecil
 
Perahu perlahan merapat di dermaga kecil. Saking jernihnya, dasar lautnya sampai keliatan jelas, padahal cukup dalam tempat dimana kapal ini membuang jangkar.
Dari sini saya bersama pemilik perahu beranjak masuk kedalam perkampungan, dan rencannya akan mencari salah satu rumah penduduk untuk kami jadikan sebagai tempat menginap dan makan. Oiyaah, disini rata-rata penduduknya baik banget apalagi sama pendatang yang berkunjung ke pulau ini.


Rumah Bapak Fahda, tempat kami menginap di Pulau Labengki Kecil

Dan akhirnya kami mendapati rumah penduduk yang kebetulan masih ada hubungan keluarga dengan Bapak pemilik perahu yang kami tumpangi. Rumah yang kami tumpangi adalah keluarga Bapak Fahda. Keluarga ini baiiiiikkk banget. Menerima kami ber-6 seperti saudara sendiri.
Rumah keluarga ini juga pernah menampung wisatawan lain dari dalam dan luar Negri. Untuk tarifnya, per-orang dikenakan Rp 30.000 sekali makan. Dan itu sudah termasuk biaya kita nginap dirumah ini. Murah bukan. Apalagi untuk sekelas pulau terpencil seperti ini. Kami waktu itu 3 kali makan. Jadi per-orang Rp 90.000. tapi karena kebaikan keluarga ini kami sepakat memberikan uang total Rp 800.000. termasuk karcis masuk ke tempat-tempat wisatanya. 


Spot Snorkling The Drift

Setelah menyimpan peralatan, kami segera menuju ke “Spot The Drift”. Spot pertama dengan perjalanan 20 menit dari Pulau Labengki. Lautnya tenang dengan airnya yang jernih membuat kami agak lama melihat ikan, karang dan koral disini.
Dan langit di ufuk barat mulai merona, kami segera beranjak dan kembali ke Pulau Labengki menuju kerumah yang kami nginap. Karena keterbatasan air bersih, kami pun mandi dengan air dari sumur. Menimba sendiri dari sumur yang terletak disamping rumah ini, hehehehe. Tapi disitulah sesungguhnya yang kami ingin rasakan dan nikmati, berasa seperti inilah kebiasaan penduduk di Pulau terpencil ini. Oiyah. Di Pulau Labengki ini aliran listriknya sudah ada dan digerakan oleh generator kecil yang ditempatkan di sudut Desa. Tapi karena kapasitasnya kecil, listrik disini hanya menyala dari jam 6 sore hingga jam 12 malam. Jadi buat teman-teman yang hendak berkunjung kesini perlu persiapan yang matang yah, pastikan kondisi baterai kamera anda full dan siap pakai.

Selesai mandi, saatnya makan malam bersama. Menu makanannya cukup sederhana karena keterbatasan bahan makanan pokok di Pulau terpencil ini. Tapi namanya juga sudah lapar makanan apapun akan terasa nikmat. Ditambah dengan ikan goreng yang masih segar. Kalau disini tidak ada istilahnya ikan es, semua ikan sebagai asupan makanan di Pulau ini masih segar banget.
Malam kian larut, kami terbawa obrolan yang panjang. Kami tertarik dengan kisah Pak Fahda. Kisah ini merupakan sisi lain dari keindahan Pulau Labengki yang kita ketahui.

Pak Fahda dan Istrinya merupakan Guru Honorer Sekolah Menengah Pertama di Pulau Labengki. Mereka mengajar 6 hari full dengan berbagai macam mata pelajaran. Yang miris dan membuat kami terharu. Honor mereka per-bulan tergolong sangat minim. Rp 250 ribu/bulan. Dan itu pun dibayar 4 bulan sekali. Sungguh sesuatu pengabdian yang sangat tulus dari seorang pendidik, dari seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Dan untuk menambah penghasilan biar dapur mereka selalu ngepul, keluarga Pahda menjadikan rumahnya sebagai tempat singgah sementara bagi para wisatawan yang berkunjung ke Pulau Labengki.
Disamping bidang pendidikan yang minim, masih ada sisi lain yang membuat warga disini resah. Terdapat salah satu perusahaan yang memonopoli di Pulau Labengki dan sekitarnya. Imbasnya, salah satu air terjun yang menjadi salah satu primadona destinasi wisata di Pulau Labengki mulai pudar keindahaanya. Airnya menjadi keruh, dan dibeberapa titik sudah mulai nampak kering dan perusahaan lainnya sebagai pengepul Ikan Tongkol. Mereka memperkerjakan anak-anak usia Sekolah sebagai pekerja. Sehingga anak-anak disini lebih tertarik menari uang daripada pergi ke Sekolah.
Untuk kesehatan di Pulau Labengki tidak ada tenaga Dokter, sehingga kalau ada warga yang sakit mereka harus naik ketinting selama 2 jam ke Lasolo. Sungguh sangat miris kehidupan warga di Pulau terpencil. Tapi karena keterbatasan akses keluar Pulau membuat mereka dipaksa bertahan dengan kehidupan ini.
Malam kian larut, satu-persatu kami beranjak tidur, seiring dengan lampu listrik sudah mulai padam.


Goa Kolam Renang, Pulau Labengki Kecil
 
Rencana awal kami menunggu terbitnya sang Mentari sirna, kami bangun kesiangan. Setelah sarapan pagi sederhana, kami kembali mulai menjelajahi keindahan alam di Pulau Labengki. Spot pertama “Goa Kolam Renang”. Letaknya persis dibelakang pemukiman warga. Didalam gua ternyata sudah dialiri listrik dari generator kecil didekat rumaahnya Pak Fahda. Sehingga kondisi didalam gua cukup terang. Air didalam gua ini cukup dingin menusuk kulit. Sementara batuan stalagmite menjulang, mengisi hampir setiap ruangan didalam gua. Tempat ini merupakan salah satu destinasi wisata yang wajib kita datangi di Pulau Labengki.


Spot Pasir Panjang, Pulau Labengki Besar


Spot Dolipo, Pulau Labengki Besar
 
Selanjutnya kami menyambangi 2 Spot Snorkling.
·         Spot Dolipo
·         Spot Pasir Panjang

Kedua spot snorkeling ini letaknya di Pulau Labengki Besar, berseberangan dengan Pulau Labengki kecil. Namun walaupun lebih besar, Pulau Labengki Besar tidak berpenguni, karena hampir semua daratan merupakan pegunungan. Menurut cerita yang kami dengar dari Pak Fahda, bahwa orang Bajau tidak bisa tinggal di Gunung.

Spot snorkeling Dolipo dan Pasir Panjang memiliki terumbu karang yang mempesona, ditunjang dengan banyaknya ikan-ikan kecil yang menghiasinya.
Dan saking jernih air lautnya, hingga dikedalaman 5 – 10 meter pun masih kelihatan karangnya dengan jelas. Disini kami bisa melihat Nemo, Kerang, Blue Fish dan beberapa keanekaragaman terumbu karangnya.


View Teluk Cinta

Foto Bersama
 
View dari Bukit

Setelah puas snorkeling di 2 tempat, kami melanjutkan perjalanan kesalah satu bukit yang disebut, “View Teluk Cinta”.
Untuk menuju kepuncak bukit ini disarankan menggunakan sandal atau sepatu yang khusus buat tracking. Kita melewati jalanan tanjakan yang sempit, dihiasi karang-karang tajam. Harus ekstra hati-hati. Perjuangan kita pasti lelah, tapi semuanya akan terbayar lunas setelah kita sampai dipuncak bukitnya. Nun didepan mata nampak gugusan pulau karang kecil tak berpenghuni menghiasi seantero pesisir pantainya. Sementara kalau kita menengok ke belakang nampak Teluk Cinta yang mempesona. Perbedaan warna biru muda dipesisir pantai dan biru tua ditempat yang lebih dalam membentuk lambang cinta. Jika kita berdiri ditempat yang lebih tinggi, semakin kelihatan dengan jelas lambang cinta tersebut. Duuuhhh romantisnya hehehe.

Tak terasa hari semakin siang dan kami harus segera kembali ke Pulau Labengki Kecil. Menurut informasi yang kami dapat dari Bapak Pemilik perahu yang kami sewa, bahwa jangan terlalu sore kembali ke Kota Kendari, untuk menghindari gelombang besar selama perjalanan.
Sesampainya dirumah Pak Fahda, makanan siang sudah siap. Setelah mandi dan packing semua peralatan, kami kembali makam siang bersama keluarga Pak Fahda, menu makan siang kali ini lebih istimewa :

·         Sinole, masakan khas Suku Bajau Sulawesi Tenggara. Berupa Sagu dalam ukuran kecil dimasak dengan campuran parutan kelapa.
·         Sambal colo-colo, sambal khas Sulawesi Tenggara
·         Tedong-Tedong, atau Babadog (sebutan bagi Suku Bajau)
·         Ikan Palomara Goreng


Makan Bersama dengan Keluarga Pak Fahda

Nikmat rasanya, apalagi perut sudah keroncongan setelah bermain bersama Ikan, Karang dan Koral . Setelah makan kami sempatkan untuk foto bersama dengan keluarga Pak Fahda dan tak lupa kami berikan beberapa cinderamata untuk keluarga Suku Bajau di Pulau Labengki yang baik hati ini.


Rumah Pak Fahda, Pulau Labengki Kecil

Mas Darman (berkacamata), foto bersama keluarga Pak Fahda
 
Banyak kenangan yang pasti akan selalu ingat, banyak pelajaran penting yang kami bawa dari keramahan penduduknya. Tentang rasa bersyukur, kesederhanaan, memberi tanpa pamrih, ketulusan dan masih banyak lagi.

Terimakasih Keluarga Bapak Fahda
Terimakasih Warga Pulau Labengki yang baik hati
Terimakasih Pulau Labengki buat alamnya, pantai, ikan, karang dan koral nya yang mempesona

Semoga disuatu hari nanti kami bisa datang kesini lagi. Amen.

#   #   #   #   #

Tips Traveling ke Pulau Labengki :

Dimana ?
·         Pulau Labengki terletak di Kecamatan Lasolo, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.
·         Awali perjalanan dari Kota Kendari, sebelumnya terlebih dahulu menghubungi Bapak pemilik perahu yang akan kita sewa ke Pulau Labengki.
·         Lama perjalanan dari Kendari – Pulau Labengki, 4-5 jam perjalanan, melintasi perairan Banda Basin Utara.

Kapan ?
·         Waktu yang baik bulan Mei – September
·         Hindari awal bulan Agustus, gelombang cukup besar


Nomor yang bisa dihubungi :
·         Bapak Jupri, pemilik perahu perahu di Desa Wawutu (0853-42282648)
·         Istri Bapak Jupri (0823-44896969)
·         Bapak Fahda di Pulau Labengki Kecil(0812-90727040). Berhubung sinyal telkomsel di Pulau Labengki agak ngadat, bisa hubungi beliau lewat SMS. 
 

Kamis, 21 April 2016

Pendakian Gunung Andong



Gerbang masuk Pendakian Gunung Andong


Deru mesin kendaraan angkutan umum mini bus memecah diantara jalanan menanjak dan berkelok. Beberapa kali si sopir memberikan kesempatan bagi kendaraan kecil dibelakangnya untuk mendahului. Rupanya sopir mengerti dengan kondisi kendaraan yang di kendarainya. Daripada macet mengular dibelakang. Kira-kira begitu kali yaahh yang dipikirkan si sopir tersebut.
Penumpang mini bus didominasi anak-anak sekolah. Dari SD sampai SMA. Kebetulan sekolah tempat mereka menimba ilmu berada di lintasan jalur trayek kendaraan mini bus ini.

Diperjalanan ini. Didalam kendaraan umum yang semestinya tidak layak lagi untuk dioperasikan ini, aku belajar tentang ketulusan dan keikhlasan dari seorang kondektur bus. Uang logam pecahan Rp 500 dan Rp 1000 pemberian dari anak-anak sekolah sebagai biaya menumpang kendaraan masih tetap diterimanya sembari senyum mengumbar menghiasi wajah kusutnya. Tanpa amarah. Tanpa keluh-kesah. Dia ikhlas menerimanya, walau akupun tau kalau uang tersebut sebenarnya belum sesuai dengan biaya sebenarnya. Ahh pagi yang damai. Sedamai hatiku mensyukuri karunia dari Yang Maha Kuasa karena masih diberi kesempatan bertemu dengan orang baik ini.

Panorama alam hari itu masih diselimuti kabut tipis. Cakrawala belum menampakan rona birunya. Dikiri kanan jalan ladang-ladang dan permukiman penduduk menghiasi jalur jalan raya Magelang – Salatiga. Jalur ini juga persis melintasi salah satu dataran tinggi dikaki Gunung Merbabu. “Kopeng”. Lebih tepatnya nama daerah ini. Masih berada diwilayah administrasi propinsi Jawa Tengah.
Hawa dingin. Ladang sayuran. Tembakau. Dan beberapa tanaman sisipan. Manusia berjaket tebal. Pemandangan yang sering nampak didaerah dengan predikat dataran tinggi dan dikaki-kaki Gunung.

Ransel sarat muatan peralatan pendakian sesaat kemudian menempel erat dipunggungku. Ketika aku turun disimpang 3 “Pasar Ngablak”. Perjalanan dilanjutkan dengan menumpang ojek motor untuk mencapai “Base Camp Sawit”. Lelah selama perjalanan aku manfaatkan untuk istirahat sejenak sambil membeli beberapa kebutuhan pendakian yang masih kurang. Dan perlahan mentari mulai menampakan wujudnya. Kabut tipis yang sebelumnya menghiasi carawala menghilang  dibalik lereng Gunung. Langit mulai membiru. Petanda baik. Semoga saja pendakian kali ini cuaca cerah selama perjalanan naik dan turun.

“Gunung Andong”. Berada di Desa Ngablak-Kopeng, Kabupaten Magelang-Jawa Tengah. Gunung ini tergolong pendek, dengan ketinggian 1700-an meter dari permukaan laut. Namun jangan salah, sensasi yang ditawarkan sungguh berbeda. Jalur trekkingnya nyaris tanpa bonus alias jalan datar. Melipir diantara terjalnya jurang yang menghiasi disepanjang jalur pendakian.
Beranjak dari Base Camp Sawit, jalan masih mulus beralaskan semen sebagai jalur pengubung ke ladang penduduk setempat, dan berujung disalah satu simpang 3. Pilihlah jalur kekanan, dari sini beberapa langkah didepan terlihat disebelah kiri jalan, sebuah gapura bertuliskan “Pendakian Gunung Andong”. Dari sini perjalanan pendakian mulai menanjak dan terus menanjak. Tanpa bonus. Dengan kontur tanah lempung yang sangat licin ketika hujan datang. Dan jangan coba-coba kesini ketika musim hujan, sangat berbahaya.


menuju Pos 1

Sama seperti pada pendakian di Gunung-Gunung lainnya. 1 jam pertama diawal pendakian harus banyak-banyak istirahat. Tarikan napas dan ayunan langkah kaki harus disesuaikan. Disertai beratnya beban yang mulai terasa.

“Mau Gunung itu pendek atau tinggi, kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal. Jangan menyepelekan alam. Selagi alam masih bersahabat, ikuti aturan yang ada”. Begitu pesan singkat dari salah seorang sahabat senior pendaki Gunung.

Perjalanan normal pendakian Gunung Andong, dari Base Camp hingga ke Puncaknya sekitar 2-3 jam. Tapi semua itu kembali pada ketahanan fisik dari masing-masing pendaki. Intinya jika lelah jangan sungkan-sungkan untuk istirahat.

·         Base Camp – Pos 1 (60 menit)
·         Pos 1 – Pos 2 (30 menit)
·         Pos 2 – Mata Air (30 menit)
·         Mata Air – Puncak Andong (30-60 menit)

Jalur pendakian masih didominasi hutan pinus, ketika lepas dari Gapura. Dikiri-kanan jalan ladang para penduduk yang ditanami sayuran dan beberapa buah-buahan seakan memanjakan pandangan mata. Beberapa saat kemudian didepan kita sudah menanti tanjakan terjal diapit pohon pinus yang menjulang. Pos 1 sudah dekat, tapi tanjakan itu seolah menepis bayangan sebelumnya bahwa Pendakian Gunung Andong tidak semudah yang dibayangkan.

Sejenak melepas penat, saya beristirahat disini. Cairan kuning vitamin C dari botol mineral sejenak berpindah ke kerongkonganku. Lega rasanya. Sementara nun jauh diatas sana puncak Andong masih belum Nampak. Sementara sepoi hembusan lembayung yang menerpa pinus bergemuruh, bak suara hujan yang turun dari langit. Disertai bau lumut yang menghinggap ke hidung.
Seperti sebait lagu Iwan Fals :
“suara alam ini, hangatkan jiwa kita”.


view dari lereng Gunung Andong

Menuju Pos 2 jalur masih menanjak dan berkelok tajam. Selalu waspada dan hati-hati saat melangkah. Tanah lempung. Rawan tergelincir. Gunakan batuan dan akar pinus yang mencuat sebagai pegangan.
Lewat Pos 2, kontur tanah mulai berubah. Dari yang sebelumnya tanah lempung berganti dengan batuan. Disini pemandangan mulai terbuka. Tidak ada lagi pohon pinus dikiri-kanan jalan.
Aku kembali istirahat. Menyesuaikan kembali langkah kaki. Pijakan memang keras, tapi kondisi batuan yang basah karena hujan di pagi hari membuat aku harus lebih hati-hati lagi. Salah sedikit, jurang dalam dikiri jalan siap menyambut.

Sepanjang perjalanan aku terus berdoa, semoga cuaca tetap cerah hingga ke puncak dan turun esok harinya. Memang alam sulit ditebak, tapi tidak ada salahnya memohon perlindungan dan keselamatan dari Yang Maha Kuasa.
Ditengah perjalanan. Persis disebelah kanan jalan berbatu itu. Terdapat sebuah mata air yang mengalir hingga ke permukiman penduduk. Aku membasuh wajah kusutku. Mencicipinya. Sejuk. Segar membasahi tenggorokanku yang tercekat karena ganasnya jalur pendakian. Beberapa rombongan pendaki yang baru saja turun juga menyempatkan mengambil air dari sini. Sebagai bekal perjalanan menuju ke Base Camp.

Aku kembali mengayunkan langkah kakiku. Beban mulai terasa berat. Tapi didepan sana. Diujung tanjakan terjal itu seakan memompa kembali semangatku untuk terus melangkah.
Apa yang ada disana? seperti sebuah puncak kecil. Didepannya kosong. Atau hanya imajinasiku saja karena kelelahan?.
Disini senyumku terurai. Sebuah maha karya Sang Pencipta terpampang sejauh mata memandang. Indah. Anggunnya pegunungan. Ladang yang menghampar. Membuatku kembali menghempas ransel sarat muatan dari pundak. Lelah kulupakan sejenak, kulemparkan pandangan kesuluruh penjuru yang bisa terlihat. Tapi kembali kusadari, perjalanan ini belum berakhir. Ransel kembali kupanggul. Sepintas terlihat penutup luarnya telah berubah warna. Biru terang menjadi hitam disana-sini karena seringnya terhempas begitu saja ditengah jalur pendakian.
Kembali langkahku mengayun. Kembali berkutat dengan jalanan berbatu terjal. Kembali menguntit kelokan tajam. Sepoi lembayung. Jurang terjal. Rumput liar. Kabut tipis. Setia menemani langkahku yang melambat.


Puncak Makam

Tepat diujung sebuah tanjakan. Disini. Pendakian Gunung Andong terbagi jalur menuju ke 3 puncak yang menjadi tujuan utama para penggila ketinggian. Kekiri kira-kira 200 meter merupakan Puncak Makam. Berdiri sebuah bangunan beratap terpal biru. Tapi aku tak berniat kesana. Jalan yang aku pilih puncak Gunung Andong yang sebenarnya. Belok kanan walaupun didepan sana tanjakan terjal menanti untuk dilewati.
Dan masih berkutat dengan tanjakan. Aku terus melangkah, mengapit erat ransel sarat beban. Dan didepan tanjakan itu 2 buah bangunan sederhana berdiri kokoh, beratap terpal, berdinding terpal dan beralasakan tikar kusam. Tempat yang menjadi harapan para pendaki. Para peraih mimpi. Penggila ketinggian. Pecinta alam liar.
Tak jauh dari sini sebuah patok kayu dihiasi bendera Merah Putih dititik tertingginya. Dan 2 buah plang bertuliskan Puncak Andong berdiri menghiasi panorama alam ditempat tertinggi Gunung  Andong. Aku berada disini. Membelai tulisan ini. Membelai Bendera Merah Putih. Yaaahhh. Aku bahagia. Bisa selamat sampai disini.

Add caption


Dari sini terlihat jelas pegunungan, lembah, ladang-ladang penduduk, jalan.
Gunung Merbabu, Lawu dan Merapi disisi Tenggara. Bukit Menoreh dan Gunung Prau di Selatan. Gunung Sumbing dan Sindoro di Timur. Sementara disisi Barat Laut Gunung Ungaran berdiri dengan gagahnya.

Dan nun jauh diujung barat, cakrawala kian merona. Senja sebentar lagi pergi. Malam kian menyapa, hembusan sepoi lembayung menusuk kulit hingga ke sumsum. Tenda yang kubawa segera dipasang, berlindung disalah satu sisi bangunan sederhana. Aku hanya ingin terhindar dari terpaan angin secara langsung. Bagaimana tidak? Mendirikan tenda persis diatas tempat tertinggi. Merupakan santapan angin kencang.
Semakin malam puncak Andong semakin ramai. Para pendaki lainnya mulai berdatangan. Kebanyakan mereka berasal dari beberapa Kota di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Lewat obrolan singkat aku bertanya kepada salah satu pendaki yang masih belia.

“kenapa mendaki Gunung”?. Tanyaku sekedar ingin tau.
“bosan dengan suasana Kota, setiap hari liatin mobil, gedung bertingkat, udara yang tercemar dari knalpot kendaraan, bla bla bla”. Jawabnya panjang lebar.
Aku hanya tersenyum dan menjauh.
Setelah makan, aku habiskan sisa malam itu dengan duduk didepan tenda. Menatap. Menerawang nun jauh disana. Lampu-lampu dari berbagai penjuru warna-warni, menghiasi hampir disetiap sisi lembah, bukit dan dikaki Gunung. Indah.
Gunung. Salah satu tempat pelarian yang sempurna bagi jiwa-jiwa yang letih dengan masalah duniawi.
Rasakan sepoi lembayung yang menghempas pinus, ilalang, cantigi.
Kabut yang menitari pegunungan.
Jalak Gading si pelipur hati nan lara.
Indahnya Bunga Dasy, Edelweis.
Bercumbu dengan terjalnya jalur pendakian, jurang, cadas setia menemani.
Guyonan para sahabat, sembari menanti datang dan perginya sang Mentari.
Aaaahhh sulit untuk dilupakan.

Sementara langit diujung timur mulai terang, pertanda Mentari sebentar lagi menampakan wujudnya. Aku tak bergeming dari depan tenda. Cukuplah dari sini menanti datangnya Mentari.
Setelah sarapan pagi, tenda yang kupasang malam sebelumnya kembali kubenahi. Melipat rapid an dimasukan kembali kedalam ransel, bersama peralatan lainnya. Aku hanya ingin segera turun. Sepintas dari sisi Timur langit pekat kian mendekat.

Jalur turun masih sama seperti jalur naik. Beban lebih ringan dari sebelumnya, karena beberapa bahan makanan kuberikan kepada pendaki lain yang masih bertahan di puncak.
Aku sempat 2 kali istirahat sejenak ketika perjalanan turun, sebelum gerimis menghantarkanku tiba kembali di Base Camp.

* * * * * * * * * *

Menuju Gunung Andong :
1.       Dari Jogjakarta
·      Menumpang kendaraan umum kearah Magelang
·      Menumpang mini bus jurusan Magelang-Salatiga
·      Turun disimpang 3 pasar Ngablak
·      Pasar Ngablak-Base Camp menumpang ojek motor

2.       Dari Semarang
·      Menumpang bus Semarang-Salatiga
·      Turun disimpang 3 pasar Sapi
·      Menumpang mini bus jurusan Salatiga –Magelang
·      Turun disimpang 3 pasar Ngablak
·      Pasar Ngablak-Base Camp menumpang ojek motor

3.       Dari Jakarta
·      Sebaiknya gunakan armada Kereta Api
·      Pesan dari jauh-jauh hari, mengantisipasi kehabisan tiket
·      Bisa lewat Semarang atau Jogjakarta
·      Usahakan mbil jadwal keberangkatan malam dari Jakarta
·      agar sampai di Jogjakarta atau semarang pagi harinya
·      dan sampai di Base Camp siang hari

·      sorenya mulai pendakian ke puncak Andong


Jumat, 04 Maret 2016

Pulau Weh - Cerita dari ujung barat Nusantara


Terik sang Mentari siang itu seakan membakar kulit, ketika langkah kakiku menelusuri trotoar jalan itu sembari menenteng 2 ransel segede gabang. Beberapa kali saya berpapasan dengan para pejalan kaki lainnya, dan terlihat senyum merekah menghiasi wajah mereka.
“ mau ke Sabang” ? Tanya seorang Bapak pemilik warung kecil, ketika aku sempatkan beli rokok diwarungnya.

“iya Pak”, jawabku singkat.

Saya memulai perjalanan dari Jakarta menggunakan armada udara dengan tujuan Bandar Udara di Kota Banda Aceh. Selanjutnya dari Bandara, menumpang kendaraan umum tujuan Pelabuhan Laut Ulee Lheue. sebenarnya kendaraan yang saya tumpangi siap mengantar sampai kedalam area pelabuhan, tapi saya lebih memilih minta diturunkan di depan pintu masuk Pelabuhan, sembari melihat keindahan alam di Negri Serambi Mekah. Sedikit gambaran, pantai ini merupakan salah satu saksi bisu dari ganasnya terjangan gelombang tsunami beberapa tahun silam. Sejenak saya mampir disini, berdiri disalah satu bibir pantainya yang sudah disulap menjadi pantai berbatu besar yang menghiasi hampir diseluruh penjurunya. Disini saya tidak melihat satupun perahu nelayan di lautan, dan ternyata setelahnya saya baru tau bahwa hari itu adalah hari Jum’at, para nelayan tidak diperbolehkan melaut dihari tersebut, itu merupakan aturan dari Adat masyarakat di daerah tersebut. Hmmm salut deh dengan masyarakat Aceh.

Tak lama setelahnya saya segera masuk ke komplek Pelabuhan dan langsung menuju ke loket penjualan tiket Kapal laut. Ada 2 pilihan penyeberangan dari Aceh menuju Sabang. Kapal Feri dengan lama perjalanan 4 jam atau dengan kapal cepat dengan 2 jam perjalanan dengan harga yang bervariasi. Dan saya memilih menggunakan Kapal Feri, selain lebih murah saya bisa menikmati panorama alam selama perjalanan lebih leluasa. Oiyah, harga tiket kapal feri dari Pelabuhan Ulee Lheue menuju Pelabuhan Balohan di Pulau Weh berkisar Rp.25.000. Disini saya berkenalan dengan 4 orang sahabat backpacker dari Kota Binjai, Sumatra Utara dan mereka juga akan ke Pulau Weh. obrolan kami terus mengalir ketika kami sudah berada di Kapal Feri, awalnya mereka mengajak saya berpetualang bersama, tapi saya menolaknya, saya lebih memilih berpetualang sendiri karena menurut saya lebih terasa sensasi perjalanannya.



suasana diatas kapal feri menuju ke Pulau Weh

Penumpang di kapal ini cukup banyak, karena hari itu bertepatan dengan liburan akhir pekan. Namun disinilah menurut saya saat dimana kita berbaur dan menyatu dengan masyarakat lokal. Mendengar mereka bercerita dengan menggunakan bahasa daerahnya yang saya tidak mengerti hehehe, dan dengan budaya yang mereka miliki. Saat dimana jiwa petualangan kita kembali terasah, saat dimana kita merasa bahwa Negri ini kaya akan budaya, saat dimana jiwa kita seperti berada ditengah-tengah keluarga besar yang telah lama kita tinggalkan. Beberapa kali saya ditawari makanan kecil dari penumpang kapal lainnya, bahkan ada yang menawarkan saya untuk menginap dirumahnya kalau seandainya saya kemalaman sampai di Kota Sabang. Aahhh ternyata masih banyak orang-orang baik di Negri ini.

Panorama alam selama perjalanan seakan membuat mata saya nyaris tak berkedip, indah sangat. Beberapa pulau kecil turut menghiasi keindahan alam diujung barat Negri ini. Dan saya sempat mendapatkan moment ketika sang mentari beranjak pergi meninggalkan rona jingga diujung barat cakrawala. Sungguh lukisan maha karya Sang Pencipta yang sangat indah.

Tak terasa hari beranjak senja ketika kapal feri yang saya tumpangi perlahan sandar di Pelabuhan Balohan, Pulau Weh. dari sini saya menumpang “bentor”, sepeda motor yang dimodivikasi tambahan gerobak disamping kirinya dan biasanya mangkal disekitar pelabuhan ketika ada kapal datang. Saya memilih ke Pantai Iboih terlebih dahulu karena menurut saran dari salah satu penumpang kapal. perjalanan selama 2 jam kembali mengantarkan saya disalah satu penginapan sederhana di Pantai Iboih. Harga sewa kamar per-malamnya rata2 Rp.150.000-Rp.200.000. tergantung pintarnya kita tawar-menawar dengan pemilik penginapan ini.
Perjalanan panjang seharian membuatku merasa cukup lelah, setelah mandi dan makan disalah satu warung yang berada disamping penginapan, saya segera tidur sembari mengumpulkan tenaga buat petualangan selanjutnya.



Pulau Rubiah didepa mata


Pantai Iboih, Pulau Weh


Pagi yang damai membuatku segera beranjak dari tempat tidur. Bias sang mentari yang masuk dicelah-celah jendela kamar membuyarkan lamunan. Setelah mandi dan mempersiapkan semua peralatan, saya beranjak ke warung kecil yang menjual makanan, sekedar mengisi perut.
Tujuan pertama dihari tersebut adalah Tugu Nol Kilometer Indonesia. Saya kembali menumpang bentor yang sudah kupesan sebelumnya, oiyah disini tak menyediakan kendaraan umum. Jadi kalau kita mau menjelajahi tempat-tempat wisata di Pulau Weh, sebaiknya kita menyewa bentor. Tapi jangan takut soal biaya, para pemilik bentor tidak akan meminta biaya mahal kok, pandai-pandailah kita menawar. Dan itu sudah merupakan harga standart penyewaan bentor disini. Untuk sehari biasanya harga kisaran Rp.200.000-Rp.300.000.

perjalanan dari Pantai Iboih menuju Tugu Nol Kilometer Indonesia ditempuh dalam waktu 20 menit dengan jarak 8 kilometer, melintasi medan yang terus menanjak dan berkelok. Sepanjang perjalanan saya disuguhkan dengan panorama alam yang sangat memukau, melintasi hutan tropis yang masih sangat terjaga keasliannya. Beberapa kali saya dipaksa untuk merunduk dan menghindar dari ranting pohon yang dibiarkan menjuntai ke tengah jalan. Ditengah jalan saya menjumpai sebuah pos penjagaan tapal batas, dari Armada Angkatan Udara, yang berdiri persis dipinggir jalan.


Tugu Kilometer 0 Indonesia


“ 17 OKTOBER 2015”,
Puji Syukur kupanjatkan kepada Yang Maha Kuasa, karena atas Rahmat dan Karunia-NYA saya bisa berada disini. “Tugu Nol Kilometer Indonesia”. Ujung barat Indonesia.
Sebuah tempat yang menjadi salah satu impian dimasa kecilku, sebuah tempat yang selalu menghantui jiwa petualanganku. Dan akhirnya saat ini aku sudah menapakan kakiku disini, merasakan hembusan lembayung disisi terluar Negri ini. Tempat dimana menjadi impian bagi para petualang untuk menggapainya.
Disini jauh dari keramaian. Jauh dari hingar-bingar dan bisingnya dunia. Disini hanya ada ada deburan ombak yang menghempas karang, disini hanya ada suara alam yang menyentuh jiwa. Berada disini saya merasa bahwa betapa indahnya Negri ini, Negri yang saya tinggali, Negri yang saya cintai.


Pulau Weh

Lepas tengah hari saya beranjak dari tempat ini dan kembali ke Pantai Iboih. dan rencananya snorkeling di Pulau Rubiah. Pulau kecil ini berjarak 500 meter dan letaknya persis didepan Pantai Iboih.
dengan menyewa perahu kayu, saya segera menyebrang dan langsung turun di spot snorkeling. Disini sudah ada beberapa penyelam lainnya. Sebelumnya saya beranjak ke warung terdekat untuk menitipkan barang bawaan sembari makan siang, karena perut sudah keroncongan dan minta diisi hehehe. Dari pemilik warung ketika menyelam, saya disarankan membawa mie rebus yang telah diseduh sebagai pengumpan ikan. Dan ternyata benar apa yang dikatakannya, mie rebus tersebut umpan yang cukup manjur buat mendatangkan ikan-ikan yang beraneka warna, dari yang kecil sampai yang sebesar lengan orang dewasa. Di Pulau Rubiah ini terdapat 3 spot buat menyelam yang sempat saya datangi, dengan jenis ikan dan terumbu karang yang berbeda-beda jenis ditiap tempatnya. Jika kita ingin mencoba menyelam di spot-spot tersebut, mintalah kepada pemilik perahu yang kita sewa sebelumnya, tapi kita wajib keluarkan kocek tambahan lagi sebesar Rp.50.000. buat saya sih tidak masalah, semuanya akan terbayar lunas ketika kita sudah melihat panorama alam bawah lautnya.

Trip pertama di Pulau Weh hari itu ditutup dengan kembalinya saya ke penginapan “Siti Rubiah”, yang saya tempati malam sebelumnya.

Malamnya setelah selesai mandi, saya mencoba mencicipi kuliner lokal “Sate Gurita”. Penasaran dengan informasi dari salah seorang sahabat traveler yang terlebih dulu berkunjung kesini. Rasanya sedikit gurih dan pas banget dengan lidah. Walaupun harganya agak mahal menurut saya. 1 porsi Sate Gurita dengan 2 buah lontong dibanderol dengan harga Rp.20.000. tapi itu merupakan salah satu cerita yang akan kita kenang di kemudian hari nanti, bahwa kita sudah mencicipi kuliner-kuliner lokal di setiap tempat yang pernah kija jelajahi.

Masih pagi benar di hari ke-2 di Pulau Weh, saya dikejutkan dengan suara pintu kamar diketuk dari luar. Setelah saya buka pintu, ternyata yang datang “Bang Muchtar”. Abang bentor yang menemani petulanganku di Pulau Weh. sebelumnya saya sudah pesan bahwa pagi itu saya mau keliling Kota Sabang. Setelah packing semua barang bawaan, saya bergegas check out dan menumpang bentor menuju ke Kota Sabang.
Spot pertama Tugu “I Love Sabang”. Untuk menuju ketempat ini kita akan melitasi jalan tanjakan disertai kelok-kelok yang cukup tajam. Untung saja bentor Bang Muchtar kuat tarikannya, salah sedikit bakal merosot kembali kebelakang. Tugu ini berada disuatu tempat yang cukup tinggi, dari sini kita bisa melihat dengan jelas pantai dan laut serta pulau-pulau kecil yang membentang didepan mata.


Tugu "I Love Sabang"

Beranjak dari Tugu ini saya menuju ke ”Monumen Sabang Fair”. Tempat ini berada persis dipinggir pantai, dengan panorama alam yang memukau. Menurut saya, Kota Sabang sangat bersih dan terawat. Selain banyak pepohonan yang menghiasi hampir diseluruh penjuru Kota, saya melihat nyaris tidak adanya sampah yang berserakan disetiap jalanan yang saya lewati. Dan terdapat juga pos-pos dari Armada Angkatan Laut yang berdiri bibir-bibir pantai berpasir putih.

Setelah seharian keliling Kota Sabang, saya kembali menuju ke Pelabuhan Laut Balohan. Rencananya kembali ke Banda Aceh. Petualangan kali ini di Pulau Weh berakhir sudah. 2 hari rasanya belum cukup menjelajahi Pulau ini, tapi kembali waktu tidak mencukupi untuk berada terlalu lama disini.

Selamat Tinggal Pulau Weh
Selamat Tinggal Kota Sabang
Selamat Tinggal Negeri Serambi Mekah
Saya pasti selalu mengingat apa yang saya lewati


* * * * * * * *